Chevening Scholarship in The UK

Mengapa memilih Oxford dan bagaimana lolos seleksinya?

Ya siapa yang tidak mau belajar di kampus yang mirip the Hogwarts, di kota yang hampir setiap sudutnya ada cerita sejarah, dan bisa berbangga karena satu alma mater dengan tokoh-tokoh ternama seperti aktor Hugh Grant, penulis Lord of the Rings JRR Tolkien, dan 27 perdana menteri Inggris. Oxford juga saat ini berada di urutan nomor satu dalam daftar universitas terbaik dunia versi Times Higher Education.

Tetapi saya sebenarnya memilih sekolah berdasarkan jurusan yang saya tertarik untuk pelajari. Setelah belajar jurnalistik untuk S1 dan menjadi jurnalis selama 8 tahun, saya menjadi tertarik ke bidang kebijakan publik, terutama yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan perubahan iklim. Kebetulan di University of Oxford ada Blavatnik School of Government (BSG), sekolah khusus kebijakan publik yang menawarkan studi untuk Master of Public Policy. Program ini sifatnya interdisciplinary, jadi yang dipelajari adalah bagaimana suatu kebijakan dibuat dengan pertimbangan ilmu ekonomi, filosofi, hukum, dan politik, ditambah mata kuliah wajib tentang negosiasi, komunikasi, evaluasi kebijakan dan scientific evidence untuk kebijakan. Saya merasa program ini cocok untuk saya yang sebagai jurnalis juga dituntut untuk mengerti berbagai bidang secara umum, tanpa harus menguasai bidang tertentu secara khusus.

Saat mendaftar, saya harus mngirimkan resume dan essay  yang menjelaskan mengapa saya tertarik di kebijakan publik, dan apa rencana saya untuk menerapkan ilmu yang dipelajari di Oxford.

Jurus yang saya pakai sebelum mengisi aplikasi adalah mencari tahu dengan teliti apa fokus dan tujuan dari program itu. Fokus bisa ke riset, artinya untuk persiapan S3 atau karir di akademik, atau practical skills, artinya untuk langsung bekerja, seperti sekolah saya. Ini juga salah satu alasan lain mengapa saya memilih belajar kebijakan publik di Oxford BSG—setelah selesai studi saya langsung mau kembali bekerja lagi, tidak ada minat ambil S3.

Dalam essay saya sebutkan berbagai mata kuliah wajib yang memberikan practical skills seperti negosiasi, komunikasi, dan evaluasi kebijakan, dan rencana saya untuk menerapkan skills tersebut setelah selesai studi. Dengan demikian essay saya menunjukkan bahwa saya sudah mengerti benar apa saja yang Oxford BSG tawarkan, dan sudah memikirkan bagaimana saya akan memanfaatkannya untuk pelayanan publik.

Kebetulan program kebijakan publik di Oxford BSG memang mempunyai visi untuk menciptakan a world better led, served and governed—dunia yang dipimpin, dilayani dan teregulasi dengan lebih baik. Sehingga penting untuk saya tekankan di essay saya bahwa saya pun mempunyai aspirasi untuk berkontribusi ke pelayanan publik yang lebih baik. Sekali lagi sangat penting untuk do our homework dan riset sebanyak mungkin tentang sekolah dan program yang kita tuju sehingga kita bisa memastikan apa yang dicari dan ditawarkan sekolah tersebut sejalan dengan visi kita sendiri.

Sebagai bagian dari proses seleksi, saya juga waktu itu dipanggil untuk wawancara lewat Skype. Kunci untuk sukses wawancara dengan sekolah mirip dengan persiapan untuk wawancara untuk beasiswa, yang sudah pernah ditulis di sini http://survivingukmasters.com/2016/interview-bagaimana-memberi-jawaban-meyakinkan/#comment-25.

Tetapi saya mau menambahkan, pertanyaan pertama yang biasanya ditanyakan adalah mengapa Anda memilih program dan sekolah yang Anda pilih. Sekali lagi, kunci untuk menjawab ini adalah membaca tentang program dan sekolah tersebut, sehingga jawaban Anda mencakup visi Anda untuk masa depan, dan bagaimana kurikulum sekolah tersebut akan membantu tercapainya cita-cita Anda.

Kalau jawaban pertama lancar, Anda bisa lebih percaya diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Hati-hati, kebingungan menjawab pertanyaan pertama bisa menghancurkan konsentrasi dan kepercayaan diri sampai wawancara berakhir.

Penulis adalah Alice Budisatrijo, penerima beasiswa Chevening 2015-2016. Dapat dikontak melalui Twitter di @alicebudi

 

0 Comments

Leave a Reply