Extra Academics

Best Ways to Spend Time in UK: Menjadi Volunteer

“The smallest act of kindness is worth more than the grandest intention.”Oscar Wilde

Surat elektronik itu datang ketika saya sedang menanti kereta. Berdiri di peron, saya kemudian sejenak mengecek ponsel. Could you volunteer this Saturday at FoodCycle Leeds? begitu subyek surel itu. Pengirimnya Regional Hub Manager North of England FoodCycle. Si manager mencari sukarelawan untuk memimpin tim masak pada Sabtu pekan itu di dapur Burley Lodge, pusat komunitas di area Burley, Leeds. Selain tim masak, mereka juga mencari sukarelawan yang memiliki kendaraan dan dapat menjemput bahan-bahan makanan yang didonasikan salah satu supermarket di kota di utara Inggris itu.

Andai saja saya masih berada di Leeds, saya, seperti pada pekan-pekan sebelumnya pada tahun 2015 saat saya masih tinggal di Inggris dan menyelesaikan master, pasti sudah membalas surat elektronik itu dan mendaftarkan diri untuk membantu tim memasak. Tapi saya tak lagi berada di Leeds. Pendidikan master saya sudah selesai dan saya kembali beraktivitas di Jakarta. Saya tak sedang menanti kereta di peron di Stasiun Leeds, tapi tengah menunggu kereta CommuterLine yang akan membawa saya ke rumah di Serpong dari Stasiun Palmerah.

Surat elektronik itu membawa kembali potongan-potongan kenangan dari perjalanan saya bersama FoodCycle di Leeds. Terbayang dapur yang ramai oleh celoteh dan canda para sukarelawan. Aroma teh Earl Grey yang baru diseduh. Kegembiraan menyambut apa saja bahan makanan yang kami dapatkan kali itu. Kemudian kepala tim memasak akan mencari ide dan meminta pendapat anggota timnya mengenai menu yang akan disajikan. Lalu tim mulai bekerja. Beberapa lama sesudahnya, alat makan mulai disiapkan. Wangi masakan mulai memenuhi dapur. Dan sebagian tim memasak akan berganti tugas menjadi penyaji makanan. Kami menunggu satu per satu orang datang dan memastikan mereka mendapatkan sajian terbaik saat itu. Setelahnya, ruang makan akan dipenuhi dengan percakapan para pengunjung. Setelah pengunjung menyantap makanan dan berpamitan, tim akan bekerja mencuci semua perangkat dapur dan alat makan, mengepel lantai, merapikan bahan makanan yang tersisa dan mendonasikannya kembali ke dapur lain di kota yang sama.

FoodCycle adalah organisasi nirlaba di Inggris yang ditopang oleh para sukarelawan. Kelompok ini menerima donasi berupa bahan makanan, dari mulai sayur, buah, bumbu masak, roti, dan sejumlah bahan lain dari supermarket di sejumlah kota. Donasi biasanya berupa bahan makanan, termasuk makanan kaleng dan roti yang nyaris kedaluwarsa. Ketimbang berakhir di tong sampah, supermarket dapat menyumbang bahan makanan itu ke FoodCycle. Tim sukarelawan kemudian mengolah bahan-bahan tadi dan menyajikannya untuk orang-orang yang membutuhkan secara gratis.

Ghoulash, sejenis semur asli Hungaria, dengan campuran rempah dan sayuran yang sering jadi menu masak andalan

FoodCycle tersebar di beberapa area di Inggris, seperti London, South West, North, North West, Midlands, dan East Anglia. Aktivitas organisasi ini dapat dijumpai dari London hingga Birmingham, London sampai Leeds. Di kota Leeds, FoodCycle memasak untuk menyediakan makanan di sejumlah aktivitas, termasuk makan siang yang dihidangkan untuk para pengungsi setelah mereka berlatih bahasa Inggris di pusat komunitas Little London. Selain itu, tim juga memasak untuk warga di sekitar area Burley dan para manula laki-laki yang berkumpul pada akhir pekan di area Bramley.

Inggris, seperti banyak negara lain di dunia, masih berkutat dengan masalah bahan makanan yang terbuang sia-sia. Data dari Wrap, lembaga yang berkutat dengan isu-isu lingkungan, termasuk sampah dan daur ulang, menyebutkan bahan pangan yang masuk ke tong sampah –tidak termakan karena misalnya melampaui batas kedaluwarsa- pada tahun 2015 saja mencapai 13 miliar pound sterling. Kendati sejumlah inisiatif telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh gerakan publik, jumlah makanan yang tak terolah terus meningkat dari 7 juta ton pada tahun 2012 menjadi 7,3 juta ton pada tahun 2015.

Menyediakan waktu untuk terjun ke dapur FoodCycle selagi saya masih berstatus mahasiswa master adalah hal yang saya syukuri. Buat saya, saat itu, memasak bersama tim adalah jeda yang menyenangkan di tengah tugas kuliah yang menumpuk. Kehangatan para sukarelawan dan kerelaan para pengelola FoodCycle, termasuk manager yang menyapa melalui surat elektronik untuk mencari sukarelawan yang dapat membantu, menghapus pandangan akan masyarakat Barat yang katanya individualis. Sukarelawan menyisihkan waktu untuk melayani komunitas dengan hati yang terbuka. Sebagai gantinya, kehangatan datang dalam bentuk senyum pengungsi dari salah satu negara di Afrika yang mengucapkan terima kasih pada anggota tim setelah selesai menyantap makan siangnya. Atau dari gelak tawa perempuan separuh baya yang datang bersama anak perempuannya pada satu sore yang cerah di Burley Lodge. Atau dari pendatang asal Polandia yang masih terbata-bata berbicara dalam bahasa Inggris dan mencoba mempraktikkan apa yang dipelajari di kelas percakapan.

Bergabung menjadi sukarelawan di Inggris menjadi salah satu pengalaman yang layak dicoba saat kalian menempuh pendidikan di negara ini. Saya mulai mencari informasi beberapa bulan setelah sampai di Inggris dan kuliah sudah berjalan. Saya tak langsung berkecimpung menjadi sukarelawan pada awal kedatangan karena ingin fokus pada perkuliahan. Selain itu, waktu saya juga habis untuk menemukan flat dan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru. Setelah menemukan ritme yang pas, saya lalu mencari tahu mengenai berbagai organisasi. Informasi ini bisa didapatkan melalui berbagai cara, misalnya mendatangi pameran organisasi sukarelawan di kampus, papan pengumuman di sekolah, atau saya juga pernah mendatangi balai kota untuk mencari tahu organisasi mana lagi yang sedang mencari sukarelawan.

Selesai masak dan membagikan hidangan, saatnya sukarelawan makan, ngobrol dan bersosialisasi. Seru!

Agar tidak mengganggu jadwal belajar, pilih organisasi yang letaknya tak berjauhan dari tempat tinggal. Beberapa lokasi kegiatan FoodCycle misalnya dapat saya jangkau hanya dengan berjalan kaki. Hanya satu dapur di Bramley yang perlu didatangi dengan naik bis kota. Tapi ini juga terbilang dekat, perjalanan hanya memakan waktu 15 menit saja. Lokasi yang mudah dijangkau akan menghemat waktu dan tenaga sehingga kemungkinan untuk bisa terus terlibat semakin terbuka. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kendati kita menyukai aktivitas berbagi ini, pendidikan harus tetap jadi fokus utama. Saya misalnya lama tak menyentuh dapur relawan ini saat menyelesaikan disertasi.

Sejumlah riset menyebutkan bahwa berbagi dengan sesama dapat meningkatkan kebahagiaan. Saya percaya betul ini sebab bergabung dengan FoodCycle –dan the Real Junk Food Project, inisiatif sejenis yang juga fokus mengolah bahan makanan yang nyaris kedaluwarsa menjadi hidangan yang lezat bagi orang-orang yang membutuhkan- menjadi ladang kebahagiaan saya selama saya saya menempuh pendidikan. Melihat bagaimana komunitas saling menjaga dan peduli pada sekitar membuat saya tak lagi merasa berada di lingkungan yang asing atau dihanyutkan oleh perasaan jauh dari rumah.

Ratna Ariyanti adalah penerima beasiswa Chevening 2015-2016 dengan gelar Masters of Arts dari School of Media and Communications, University of Leeds. Bisa dihubungi lewat ratna.ariyanti@gmail.com.

0 Comments

Leave a Reply