Academics Life

Tutormu, sahabatmu, penyelamat studimu

Jangan tertipu dengan kesan pesan di atas hiperbolik.

Meski kedengaran lebay, kalimat itu tidak salah. Tutor akademik – seperti sudah ditulis di beberapa bagian blog ini – adalah sekutu terdekat Anda saat studi di Inggris. Kalau hubungan Anda dengan tutor akademik kurang harmonis/dekat/akrab maka ini saatnya untuk memperbaiki.

Kenapa?

Pertama, mereka (harusnya) memahami Anda sebagai mahasiswa dan orang asing sekaligus. Sebagai mahasiswa, tugas mereka membimbing dan mengarahkan juga membantu jika diperlukan dalam kegiatan terkait fungsi-fungsi akademik. Misal apa baiknya pilih modul A daripada B? Apa untungnya ikut kelas prep bahasa dibanding tidak? Atau kalau ada masalah dengan seorang dosen dan Anda butuh bantuan, dia bisa tampil mengawani setidaknya mengirim email pada dosen bersangkutan membantu persoalan Anda.

Berikutnya sebagai tutor, adalah juga tugasnya membantu Anda sebagai sosok individual.

Fungsi terakhir ini bisa jadi arguable – bisa diperdebatkan. Karena sebagaian orang mungkin berpendapat: kenapa tutor akademik harus ngurus urusan personal? Memang dia babysitter apa? Pengalaman saya mengatakan banyak tutor tidak membatasi fungsinya dengan rigid begitu. Ada cerita teman, tutor membantunya cari kontrakan flat waktu dia tiba-tiba kehilangan akomodasi karena kesalahan administrasi student house.

Ada lagi yang bantu teman ngurus cari partial scholarship setelah orangtua di kampung jatuh bangkrut sementara masa kuliah masih beberapa bulan lagi. Pengalaman pribadi saya bahkan menunjukkan tutor bersedia beri layanan proof reader gratis untuk tiap assignment sebanyak belasan ribu kata demi mendongkrak nilai saya. Padahal kalau pakai jasa proofreading di kampus, ongkosnya rata-rata paling murah £12 per 1000 kata. Intinya mereka bersedia menghabiskan waktu dan tenaga yang sangat berharga demi kemaslahatan mahasiwa tutee-nya.

Nah bagaimana sekarang mencapai level hubungan baik begini?

Ada dua hal. Pertama, usaha. Jadilah mahasiswa baik yang disiplin dan bertanggungjawab. Tunjukkan pada tutor kalau Anda memang sekolah dengan niat baik menimba ilmu. Rajin kuliah, baca jurnal, kerjakan tugas tepat waktu. Usaha dan kerja keras sangat dihargai – perkara hasil, itu lain lagi. Jika menemukan masalah, jangan tunggu lama segera hubungi tutor Anda. Kirim email, temui di ruangannya, sisakan waktu untuk ngobrol kalau kebetulan beliau sempat.

Intinya jalin komunikasi. Ceritakan tentang Indonesia, misalnya alasan Anda stres pada bulan-bulan winter adalah karena di tanah air suhu mencapai 40derajat selsius on a daily basis. Tanyakan tips atau solusi praktis untuk persoalan yang Anda hadapi terkait upaya penyesuaian diri dan akademik. Ceritakan bagaiamana sekolah di Indonesia tidak menuntut pengerjaan esai dengan ketat dan karena itu Anda meraa kesulitan catching up dengan tugas-tugas. Dan seterusnya.

Kuncinya, jangan sampai overkill. Jangan lebay, mentang-mentang mau akrab semua diadukan dan ditanyakan. Ukur dengan perasaan dan pemikiran Anda kira-kira mana yang pantas ditanyakan mana yang baiknya disimpan sendiri.

Kenapa hal yang kelihatan remeh-temeh begini dianggap penting?

Karena Anda ingin menghindari kesan “cuma nyapa kalau butuh”. Atau sudah kepepet baru bilang. Ada cerita teman yang kesulitan cari tema dan supervisor untuk disertasi. Mestinya sudah selesai bulan April, sampai Juni dia galau sendiri karena tak segera kontak tutornya untuk minta bantuan. Akhirnya waktu disertasi sudah mulai dikerjakan dia masih kelimpungan cari pembimbing, tema dan persiapan riset. Rugi waktu, tenaga dan perasaan galau selama berbulan-bulan.

Kenapa tidak mengontak supervisor segera? Mereka lama kontak balik, katanya. Sebagian kontak balik cuma untuk bilang “unfortunately, I have a maximum of students under my supervision already”.  Cari lagi, cari lagi – sampai rugi waktu sekitar satu setengah bulan. Itu separoh proses waktu nulis disertasi. Untung tutornya akhirnya menemukan supervisor dan berhasil ‘maksa’ supaya dia mau terima tutee-nya.

Belum tentu juga sih tutor akademik mau susah-payah bela-belain cari supervisor baru dan seterusnya untuk bantu. Ada teman yang studinya di bidang public policy dengan jumlah mahasiswa seangkatan diatas 160 orang. Tutor akademik punya tanggung jawab terhadap sekitar 10-16 orang dalam berbagai angkatan. Itu belum termasuk angkatan lain dan dari program studi berbeda, ditambah mata kuliah yang harus dia emban, kewajiban riset dan nulis jurnal, dan lain-lain.

Intinya dia repot dan sibuk. Kalau ini yang terjadi, ya apa boleh buat. Nasib.

Ini makin menguatkan alasan mengapa perlu membina hubungan baik dengan tutor. Dalam segala keterbatasan, tetap penting menjaga semua peluang termasuk untuk mendapat bimbingan dari personal academic counsellor ini. Jangan segan untuk mengirim email sekedar dengan sopan mengatakan “Dear Peter, I have just come across your new paper on so and so yadda yadda yaddaa…”.

Juga selalu sempatkan mengucapkan terimakasih jika merasa dibantu untuk urusan apa pun.  Bangun hubungan dimana Anda merasa perlu menempatkan dia sebagai konselor yang penting dan terhormat dan jika memungkinkan ikuti nasehatnya.

Penting diingat semua proses dilakukan dengan profesional.  Ini bukan film Korea yang tiap tikungannya bisa berubah jadi arena hubungan romantis, ya. Dan banyak universitas melarang ada hubungan percintaan antara staf dan mahasiswa, jadi harap hati-hati. Target utama adalah Anda bisa lulus sekolah dengan baik. Nilai memuaskan itu bonus.

Bonus lain didapat kenalan saya yang kebetulan dekat sekali dengan tutornya. Dia direkomendasikan dapat beasiswa untuk studi nanoscience di Amerika, karena tutornya sebelum kerja di Inggris lama berkarir di Amerika.

Asik kan?

Dewi Safitri adalah penerima beasiswa Chevening 2014-15. Bisa dikontak melalui Twitter di @pendekarsilat11

0 Comments

Leave a Reply