Academics Life

Sukses disertasi dengan menyenangkan

Yup..  You read it correctly: menyenangkan. Mempersiapkan disertasi (thesis) memang bisa dikatakan mudah tetapi juga bisa dikategorikan menantang. Mudah karena kita sendiri yang menentukan topik yang diinginkan sesuai dengan rasa ingin tahu kita. Namun proses dari penentuan topik menjadi suatu tulisan ilmiah itulah yang menantang. Berbagai kendala harus kita hadapi untuk membuahkan suatu karya ilmiah. Misalkan saja kita harus menghadapi waktu yang terbatas, minimnya ketersediaan data, biaya, motivasi diri sendiri dan faktor-faktor X lainnya. Namun, bukan berarti mengerjakan disertasi tidak dapat diubah menjadi lebih mudah dan fun. Berikut tips untuk membuat masa pengerjaan disertasi menjadi menyenangkan.

Pertama, pilih topik yang memang membuat kita tertarik dan “penasaran” ingin belajar lebih dalam lagi. Kenapa? Coba bayangkan saja kalau kita harus mengerjakan sesuatu yang tidak menarik minat kita, pasti waktu yang kita habiskan untuk mengerjakan disertasi menjadi sangat membosankan. Kalau sudah bosan tentu saja tulisan yang kita hasilkan tidak berasal dari hati kita yang haus untuk belajar, tetapi hanya untuk memenuhi kewajiban belaka.

Terkadang sebelum kita memulai studi lanjutan, sudah ada suatu topik yang menarik minat kita. That is brilliant! Tetapi jangan menutup diri kalau ada topik lain yang menarik yang baru dipelajari saat perkuliahan. Contoh pribadi adalah saya sendiri yang sudah berencana untuk menulis disertasi dengan topik perdagangan internasional. Tapi niat awal itu berubah saat saya kemudian mengikuti kelas sejarah ekonomi dan menjadi tertarik menulis disertasi dengan topik tersebut. Tema disertasi yang nyleneh dan relatif baru untuk saya, membuat saya betah berlama-lama membaca banyak jurnal dan buku-buku sejarah Indonesia demi menyelesaikan disertasi ini.

Kedua, pelajari banyak sumber data yang sekiranya dibutuhkan, baik primer atau sekunder, terutama jika kita akan mengambil topik yang berkaitan dengan Indonesia. Untuk data sekunder, data-data yang tersedia di Indonesia sangat banyak dan berlimpah. Kekurangannya hanyalah data tersebut tersebar di berbagai instansi pemerintah. Perlu waktu untuk mempelajari dimana kita dapat mencari data tersebut dan bagaimana mendapatkannya. Apakah kita perlu membeli data tersebut atau memang data tersebut sudah tersedia di website instansi yang terkait. Untuk data primer, persiapannya sedikit lebih panjang daripada data sekunder. Untuk data-data  primer tentu perlu tahu siapa responden yang akan diwawancarai, pertanyaan survey seperti apa yang akan di desain, metode yang digunakan untuk menyebarkan kuesioner, dan apakah diperlukan izin-izin dari pemerintah setempat untuk menyebarkan kuesioner dan mengambil data pribadi. Untuk di UK sudah dapat dipastikan prosesnya cukup panjang karena harus mengurus izin untuk mengambil data primer melalui survey. Intinya, membiasakan diri dengan sumber-sumber data akan menghemat waktu pengerjaan disertasi.

Ketiga, biasakan diri untuk menulis ilmiah, terutama menulis ilmiah dalam bahasa Inggris. Saya bukanlah orang yang piawai menulis apalagi menulis dalam bahasa Inggris. Untuk mensiasatinya saya mencari partner untuk menjadi “proof-reader” dan teman diskusi. Hal ini penting banget, karena revisi dan koreksi dari partner kita akan membuat tulisan kita menjadi lebih baik lagi. Saya cukup beruntung karena pada saat saya menjalani perkuliahan Master, pacar saya juga sedang mengambil program Master meskipun di negara yang berbeda. Kami kemudian bisa saling memberikan masukan untuk tulisan kami masing-masing dan melatih diri untuk siap menerima koreksi dan revisi.

Tips lain yang juga sangat berguna dari salah seorang Dosen saya adalah dengan berpartner dengan mahasiswa yang memang terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Mereka bisa membantu kita untuk membaca hasil tulisan kita sehingga menjadi “proof-reader” gratis untuk kita. Sesempurna apapun bahasa inggris kita, pasti masih ada kesalahan-kesalahan yang mungkin tanpa sengaja kita lakukan yang bisa dideteksi oleh teman kita yang memang native speaker.

Keempat, pilihlah supervisor yang ahli di bidangnya tetapi juga memiliki waktu yang cukup untuk membimbing kita. Hal ini tentu penting karena pembimbing yang super sibuk dan sulit ditemui tentu akan menghambat penyelesaian disertasi yang kita kerjakan. Memiliki pembimbing yang terkenal dan sangat ahli memang penting untuk networking, tetapi jangan sampai supervisor kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk konsultasi.

Kelima,  kerjakan skripsi setiap hari dan jangan menumpuk pengerjaan menjelang masa tenggat. Tips ini saya dapat dari rekan sesama penerima Beasiswa Chevening 2014, Icha Avrianty. Dengan mengerjakannya setiap hari akan menjadikan hal tersebut menjadi rutinitas dan meminimalisasi panik karena tenggat waktu yang semakin dekat. Tetapi tentu saja ambillah waktu untuk beristirahat dengan mengerjakan hal-hal yang kita sukai misalkan berolahraga, membaca novel, memasak, berbelanja (belanja bahan makanan bisa jadi terapi yang sangat menyenangkan saat mengerjakan disertasi!), dan tentu saja travelling. Saya ingat setiap kali saya travelling di UK, saya selalu membawa laptop saya untuk mengerjakan tulisan saya. Terkadang menulis di tempat baru terbukti membuat ide-ide mengalir dengan baik karena kita lebih relax.

Tips yang terakhir adalah JANGAN PANIK dan selalu punya prinsip “if everyone else can do this, I also can do this”. Masalah tentu saja selalu ada, tetapi tekad yang kuat yang tidak kalah dengan dinginnya angin di Inggris adalah modal dasar untuk menyelesaikan disertasi kita. Good luck everyone!

Ditulis oleh Romauli Panggabean, penerima Beasiswa Chevening 2014-15. Alamat surelnya romauli.panggabean@gmail.com

0 Comments

Leave a Reply