Extra Academics

Tantangan akademik strata Master’s di UK

Studi master’s di UK umumnya memiliki silabus ketat dan padat, karena hanya berlangsung satu tahun. Potong masa libur summer, Christmas, reading week dan lain-lain praktis yang betul-betul dipakai untuk studi hanya sekitar sembilan bulan.

Selama periode itu umumnya ada semester satu (Sept-Des), dua (Jan-Maret)  dan tiga (Apr-Jun). Sisanya libur yang dipakai untuk bersiap ujian, menyelesaikan tugas menulis paper atau bekerja di lab, dan menulis disertasi.

Dari sekuens ini saja, tampak bahwa tuntutan utama adalah kemampuan fisik dan psikis untuk spartan dan komit pada urusan studi. Itu berarti jaga kesehatan adalah hal penting, jaga keseimbangan hidup sangat dianjurkan. Banyak teman yang pakai sistem work hard play hard atau malah harder. Ini tidak dilarang, karena ya, kapan lagi bisa banyak main di Inggris atau Eropa kan?

Tetapi beberapa teman memilih berkomitmen lebih untuk fokus di studi dan membatasi urusan jalan-jalan atau main. Tujuannya supaya konsentrasi penuh dan dapat hasil maksimal dalam studi.

Apa pun pilihannya, be aware that your study needs an ample focus and commitment. Ukur diri sendiri, sebatas mana kemampuan untuk main/jalan agar tak mengganggu fokus utama yakni studi. Waktunya singkat lho, dan failure is not an option. Terutama kalau Anda berada di UK dengan skema beasiswa. Kasus gagal lulus tidak sering terdengar tapi juga sudah pernah terjadi.

Persiapan lain, dan ini mungkin jadi konsideran utama banyak mahasiswa master’s di Inggris, adalah bahasa. Kemampuan berbahasa Inggris, tulis dan verbal, sudah pasti penting. Dalam urusan akademik, kemampuan ini vital.

Tanpa maksud intimidasi dan merendahkan, skor IELTS dengan rerata band-7 belum menjamin seorang mahasiswa akan mudah berkomunikasi dan, apalagi, menulis paper akademik dengan baik.

Contohnya sudah banyak. Salah satu keluhan paling umum mahasiswa asing (bukan cuma Indonesia) adalah tuntutan berbahasa Inggris tulis yang berat. Salah eja, salah disposisi, preposisi, pemakaian kata, sinonim, istilah, kata yang cuma dipakai dalam kalimat tak baku, tata bahasa aneh, banyak sekali.

Semua kesalahan ini pernah saya lakukan dan ditunjukkan oleh pembimbing akademik di kampus. Sebagian agak memalukan karena cukup mendasar (‘abysmal’ itu beda jauh dengan ‘dismal’, bentuk ketiga untuk negara itu bisa it/her/hers bisa juga they/them/theirs).

Jangan terlalu khawatir, ada English Language Center di hampir semua universitas untuk membantu mahasiswa asing. Tetapi daya bantu mereka tidak lah besar – mahasiswa tetap diharapkan mampu cari bantuan sendiri supaya tugas-tugasnya beres.

((Dengan berbagai pertimbangan ini, mengasah kemampuan berbahasa Inggris dengan intensif sejak sebelum keberangkatan akan sangat membantu.

Membaca paper akademik yg bisa kita temukan bertebaran di internet adalah satu cara yang dipakai banyak teman untuk setidaknya membiasakan diri dengan bahasa akademik yang kelak akan dipakai. Banyak berlatih menulis esai juga kabarnya membantu, tentu dengan komitmen waktu dan tenaga lebih.))

Tuntutan krusial lain adalah berpikir kritis. Beberapa uni di Inggris bahkan memberikan bahan tentang critical thinking sebagai bacaan wajib sebelum masa perkuliahan dimulai. Untuk mahasiswa dari Asia yang sistem pendidikannya menekankan pada pengenalan teori dan praktik, bukan nalar kritis dan tanya-jawab, berpikir kritis bisa jadi ujian tersendiri.

Beberapa dosen yang sengaja saya tanya tentang perbedaan antara mahasiswa Barat dan Asia mengiyakan dugaan ini. Saya jelas masuk kelompok ini: saat menulis paper akademik saya cenderung membangun argumen dengan bertumpu pada argumen-argumen yang sudah dibangun penulis terdahulu, hampir tak pernah menyerang argumen lain dan menyodorkan gagasan baru yang saya dapat dari olah pikir mandiri.

Tidak ada yang salah menjadi pendukung teori dan pendapat tertentu, tetapi kemampuan menantang teori terdahulu dan mendukungnya dengan argumen baru adalah salah satu inti ilmu pengetahuan , yakni meluaskan khazanah intelektual manusia. Kemampuan berpikir kritis akan sangat menentukan upaya ini.

Hal terakhir yang akan saya sebut adalah tentang pengetahuan dan kemampuan menyusun paper akademik sendiri. Diluar persoalan bahasa, membangun argumen dan meletakkan landasan teori, serta hal-hal teknis seperti kemampuan mengolah data, statistik atau kerja laboratorium, menyusun karya tulis akademik adalah pekerjaan rumit.

Pertama yang dibutuhkan adalah sumber pustaka yang komprehensif, data yang mencukupi untuk diolah, dan kemudian kemampuan menjahit agar seluruh materi menjadi paparan yang masuk akal dan runut.

Misalnya kesimpulan ada di bagian akhir paper – semua orang tahu itu. Yang sulit adalah menjaga supaya penjelasan berjalan runtut, bukan tiba-tiba muncul tanpa pembahasan lebih dulu (“it cannot just come out as if a jumping rabbit from the magician’s hat” kata pembimbing saya dengan pedas saat membaca draf disertasi). Begitu pun dengan asumsi yang dipakai di bagian studi pustaka, membebek pendapat orang tidak selalu dianjurkan (“Just because an author said so doesn’t necessarily mean so – find concordant argument or better, challenge it!” komentar seorang dosen setelah membaca paper saya. “And no, don’t source Wikipedia. Source the source listed by the Wikipedia!”).

Hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menyiapkan diri, menurut hemat saya, adalah dengan banyak berusaha mengenali model karya tulis akademik ini. Contoh di internet banyak yang sudah masuk kategori peer-reviewed (sudah ditelaah oleh sesama pakar sehingga layak dibaca publik). Cara mengidentifikasinya gampang: kalau baca paper Anda bisa pahami dan nikmati, berarti paper itu bagus. Amati cara penyusunannya, tata bahasanya, bangunan argumennya. And get yourself familiar with it. Kalau ini sudah dilakukan, maka Anda sudah lebih siap menghadapi tantangan akademik di UK.

Dewi Safitri adalah penerima beasiswa Chevening 2014-15. Bisa dikontak melalui Twitter di @pendekarsilat11

0 Comments

Leave a Reply