Academics Life

Membaca dengan Teknik – Jurus Menaklukkan Reading List

Siang ini saya membaca tulisan di Jakarta Post yang menyampaikan bahwa Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara terkait minat baca (penelitian Central Connecticut State University). Mngutip Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan, sesungguhnya infrastruktur literasi kita sangat baik dan bahkan diatas Jerman dan Korea Selatan. Artinya tersedianya perpustakaan maupun infrastruktur lainnya tidak berbanding lurus dengan minat baca masyarakat Indonesia.

Lantas apa hubungannya dengan studi di UK? BANYAK!

Hal pertama yang dapat mengejutkan mereka yang kuliah di UK (terutama yang berasal dari Indonesia) adalah sangat banyaknya bahan bacaan yang harus dituntaskan untuk satu mata kuliah/modul. Terkadang dosen membedakan antara reading list untuk modul secara keseluruhan dan pre-reading untuk kuliah sesi-sesi tertentu yang membuat bahan bacaan menjadi beranak-pinak sangat banyak.

Saya teringat ada teman sesame mahasiswa asing di Inggris yang langsung bereaksi “This is impossible…” ketika membaca daftar bacaan yang mencapai 20 buku dan jurnal. Tapi sebagai mahasiswa, kita tak punya pilihan: mau tidak mau harus mampu mencerna seluruh bahan bacaan tersebut.

Dalam pengalaman saya masalahnya BUKAN terletak pada berapa banyak bahan yang harus kita cerna akan tetapi BAGAIMANA cara mencerna bahan bacaan tersebut.
Berikut beberapa tips dari saya:

  1. Jangat takut dengan bahan bacaan. Ingat, anda seorang mahasiswa level master’s (berlaku untuk jenjang pendidikan lain juga) yang datang ke UK untuk belajar. Maka belajar adalah kerja utama dan mencerna bahan bacaan adalah bagian dari proses tersebut. Konsekuensi dari tidak membaca adalah tidak mampu mengikuti ritme diskusi di dalam kelas dari dosen maupun dari rekan-rekan mahasiswa lain. Pengalaman pahit ini pernah terjadi pada saya dan sesi itu rasanya memalukan sekali. Jadi jangan takut dan bersemangatlah!

  2. Ukur kemampuan konsentrasi kita. Mempertimbangkan seberapa kuat kita membaca cukup penting dalam mengolah seluruh informasi yang kita baca. Sekedar membaca tidak cukup – kita perlu mencerna bacaan juga. Tidak ada gunanya memaksa membaca ketika sudah lelah, karena inti dari membaca adalah memahami yang kita baca. Jangan ragu mencari spot yang enak untuk membaca, musik, maupun sesajen untuk menemani kita membaca (sajen saya chips, chocolate chips).

  3. Kita bukan komputer. Terkait poin dua, kita bukan komputer yang artinya kita tidak akan mampu menghabisi semua bahan dalam rentang waktu yang singkat. Kalau Anda bisa maka Anda hebat sekali, luar biasa! Boleh share tips-nya karena saya sendiri tidak kuat. Bagi yang tidak kuat seperti saya, maka saran saya adalah bentuklah kelompok belajar atau sindikat. Bergabung dengan teman-teman sekelas, bagi-bagi bahan bacaan kemudian berkumpul dan diskusikan. Saya dan teman-teman saya memanfaatkan pola ini, lebih lagi karena dari seluruh anggota kelas kami hanya dua orang yang benar-benar native English speaker, seorang dari St. Vincent dan seorang dari New Zealand, selebihnya dari Nigeria, Qatar, Swiss, Sierra Leone, dan Uruguay. Membagi bahan bacaan membantu kami untuk saling upgrade dan saling belajar. Selain itu, membuat kami semua mampu menuntaskan seluruh bahan bacaan sehingga diskusi di dalam kelas menjadi lebih hidup dan kami mampu menggali lebih banyak dari dosen dan professor.

  4. Sudah sampai UK jangan disia-siakan. Ini lebih ke penyemangat diri sendiri saja, bahwa sampainya kita ke UK mungkin sudah melalui sekian banyak rintangan dan melakukan pengorbanan yang relatif tidak kecil. Para dosen dan professor adalah orang yang bersiap-siap selama sekian bulan untuk menerima kehadiran kita dan menyampaikan apa yang mereka punya. Jika kita tidak maksimal dalam mengolah bahan bacaan maka tidak akan banyak kita bisa menggali apa yang mereka miliki. Dari pengalaman saya, semakin bersemangat kita di kelas semakin ‘gila’ dosen dan professor kita. Sejujurnya, kondisi dinamis seperti itulah yang kita dambakan untuk dapatkan di UK. So, sekali lagi jangan disia-siakan.

Akhirul kalam, sistem pendidikan dan penilaian di UK berbeda dengan di Indonesia. Sangat penting bagi teman-teman yang akan belajar di UK untuk menyadari itu sejak awal, idealnya sejak dalam proses menentukan pilihan dan bagaimana cara bisa berkuliah di UK. Mempersiapkan diri dari awal amat penting tidak terbatas pada syarat umum seperti nilai IELTS dan persyaratan beasiswa, tapi juga kemampuan membaca kita. Jadi siapkan kemampuan terbaik kita untuk belajar di UK dan bersemangatlah!

Semoga membantu.

Sulaiman Sujono adalah penerima beasiswa Chevening 2014-15. Kontaknya melalui surel adalah sulaiman.sujono@gmail.com dan namanya sendiri untuk laman di Facebook

0 Comments

Leave a Reply