Academics Life

Trik studi penting di UK: kelompok belajar

Kapan terakhir Anda belajar kelompok?

Belajar ya, bukan buka buku atau laptop lalu makan-minum dan bergosip dalam kelompok. Ide belajar kelompok boleh jadi kuno – apalagi saat semua bisa dilakukan dari jarak jauh – tapi kegiatan ini telah menyelamatkan nasib studi saya di UK. Idenya sederhana sekali: cari teman (boleh satu boleh beberapa) untuk duduk bersama dan membahas mata kuliah yang Anda pelajari di kelas.

Bentuknya bisa diskusi (sharing) antar anggota kelompok, bisa juga teman mengajari bagian yang Anda kurang mengerti atau Anda memberitahu teman bagian yang dia kurang paham. Meskipun sederhana ini ide yang mujarab untuk mengatrol otak agar menghidupkan kembali daya ingat tentang subyek yang kita pelajari di kelas – setidaknya itu kesimpulan saya.

Belajar kelompok sangat bermanfaat untuk siswa yang ketinggalan di kelas. Dia bisa mengejar ketinggalan dengan banyak bertanya dan mencoba memahami subyek – hal yang mungkin sulit dilakukan di kelas karena keterbatasan jam kuliah, kurang lincah berbahasa Inggris, atau sekadar karena sifat aslinya yang pemalu.

Satu hal tentang pengalaman kuliah tingkat master adalah diskusi kelas sangat penting – beberapa dosen bahkan memberi nilai khusus untuk poin ini bagi mahasiswa yang aktif mengemukakan pikiran mereka di kelas. Tetapi untuk mampu mengungkapkan gagasan secara bernas dan otentik, kita dituntut memahami teks dan konteks dan punya landasan pustaka (baca: banyak sekali membaca) yang luas.

Syarat-syarat ini yang mungkin membuat kita sulit terlibat dalam diskusi kelas dan akibatnya kita jadi ketinggalan pemahaman terkait satu subyek. Nah, diskusi luar kelas dalam bentuk belajar kelompok akan membantu mengatasi kekurangan ini. Trik yang sering saya praktekkan adalah saling bertukar interpretasi – brainstorm – dengan kawan yang mungkin punya interpretasi berbeda.

Misalnya: apa sih yang dimaksud Foucault waktu dia membahas teori tentang social control?

Anda mungkin merasa tak yakin apalah yang dimaksud Foucault adalah A atau B. Mendiskusikan ini dengan teman akan memberi peluang untuk mendengar interpretasi yang lebih jelas. Begitu juga dengan teori atau gagasan lain. Ingat, studi dengan lingkungan internasional membuat peluang memahami sesuatu menjadi beragam – orang menggunakan latar belakang dan pola pikir yang sangat berbeda untuk menelaah suatu hal.

Take advantage of this – tangkap peluang ini untuk menyerap pemahaman baru seluas-luasnya. Bagi mereka yang sudah merasa mengerti dengan satu tema yang dibahas di kelas, belajar kelompok juga menguntungkan karena berarti mengetes kembali kemampuan memahami tema tersebut.  Macam guru yang makin banyak mengajar justru akan makin pintar. Jadi bagi yang belum maupun sudah paham tentang satu tema, belajar kelompok sama bermanfaatnya.

Satu lagi keuntungan belajar kelompok: mengurangi beban membaca.

Ini ide yang agak curang, tapi tidak haram dicoba. Bayangkan, pernah satu saat untuk satu mata kuliah yang akan diajarkan pada satu sesi kuliah selama dua jam, kami mendapat bahan bacaan sebanyak 250 halaman! Agak sinting, tapi bukan kasus yang langka. Studi di Inggris (atau negara dengan sistem akademik yang cukup maju) umumnya memang mensyaratkan mahasiswa untuk melek (well versed) dalam hal studi pustaka. Kalau dalam sepekan ada empat mata kuliah, bagaimana mengatur supaya semua bahan selesai dibaca dan dipahami? Belum kalau ada tugas lain.

Untuk mengakalinya saya dan teman kelompok belajar membagi rata bahan bacaan itu. Menjelang jam kuliah kami duduk bersama dan saling melaporkan apa poin yang kami baca dan apa tekanan yang patut dicatat. Kami saling membandingkan dan berdiskusi tentang isi bacaan masing-masing. Saat masuk kelas, saya lega karena sedikitnya saya sudah dapat ‘bocoran’ apa ide yang layak dibahas dalam diskusi kelas nanti. Dan saat diskusi berlangsung, tenang rasanya karena isu yang dibahas tak jauh beda dengan diskusi internal dalam kelompok. Selamet deh.

Hal-hal yang patut diperhatikan dalam membentuk kelompok belajar:

1/ Ukurannya jangan terlalu besar. Idealnya 3-4 orang untuk menjaga fokus. Terlalu banyak anggota akan meningkatkan risiko target belajar tak tercapai – misalnya kalau ada anggota sering berhalangan datang padahal masing-masing diharapkan memberi kontribusi dalam diskusi

2/ Jangan ambisius dengan memilih teman kelompok yang ‘terlalu pintar’. Percayalah bahwa masing-masing anggota punya kemampuan cukup untuk memberi kontribusi pada proses belajar dan sangat penting untuk saling memberi dan menerima dalam proses itu. Anggota yang ‘terlalu pintar’ mungkin akan banyak membantu anggota lain, tapi mungkin juga justru tak sabaran dengan kemampuan anggota lain yang butuh waktu lebih untuk memahami tema. Anggota yang ‘biasa saja’ (seperti saya) mungkin jadi segan bertanya dan berinteraksi karena merasa tak nyaman memaksa rekan sekelompok untuk menyesuaikan diri dengan ritme yang lebih lambat.

3/ Be understanding. Sikap saling mengerti dan standar sopan santun sangat penting dalam interaksi kelompok. Ingat, Anda bergaul dengan mahasiswa beda bangsa dan ras sehingga mungkin masing-masing punya kebiasaan berbeda. Misalnya bicara sambil menunjuk-nunjuk adalah hal yang biasa dalam tradisi kita (atau minimal bukan hal luar biasa) tapi untuk (sebagian) orang Barat, rupanya ini hal sensitif yang tabu dilakukan.

4/ Jadilah anggota yang aktif dan penuh komitmen. Tak ada yang tahu batas intelektualitas seseorang tapi orang akan selalu menghargai komitmen untuk tepat waktu, bekerja keras dan kesediaan membantu orang lain. Kalau Anda dapat jatah membaca 100 halaman, lakukan dengan tanggungjawab jangan mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Kalau ada anggota kelompok yang kurang paham, beri waktu untuk mengejar ketinggalan, lain kali bisa jadi Anda yang ketinggalan.

Last but not least belajar kelompok punya manfaat ganda untuk mata kuliah yang menggunakan tes tulis (sitting exam). Pertama, proses ini memberi kita peluang tanya-jawab dengan teman dan menguji apa jawaban yang kira-kira paling tepat terhadap satu pertanyaan. Kedua, kita dapat menyerap ilmu (lebih cepat) dari teman kalau kita sendiri tak sempat mempelajari sekian banyak bahan yang harus kita siapkan sebelum ujian.

Yak sono dah, pilih teman belajarmu sekarang juga!

Dewi Safitri adalah penerima beasiswa Chevening 2014-15. Bisa dikontak melalui Twitter di @pendekarsilat11

0 Comments

Leave a Reply