Your Questions

Kapan Saat Tepat Tes IELTS?

Skor IELTS (International English Language Testing System) sudah lama jadi momok buat calon mahasiswa indonesia – juga negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar resmi – yang akan berangkat ke AS, Eropa, Australia, Selandia Baru, atau negara lain yang sistem pendidikannya menggunakan kedua tes tersebut sebagai ukuran kemampuan berbahasa Inggris bagi penutur asing.

Skor IELTS akademik untuk sekolah ranking menengah-atas di Inggris misalnya, kini minimal mencapai band 7 -7,5. Ini bukan pencapaian sepele untuk kita yang memang bukan pemakai asli bahasa ini. Karena itu wajar kalau untuk mengejar skor minimal itu sebagian besar orang Indonesia menemui tantangan dan kesulitan.

Sebelum menjawab pertanyaan yang menjadi judul artikel ini, penting bagi penanya untuk tahu sejauh mana kira-kira pencapaiannya dalam praktik berbahasa Inggris secara lisan, tulis, baca dan dengar – empat kategori yang diujikan dalam tes IELTS.

Mengapa demikian?

Karena studi di perguruan tinggi luar negeri telah mensyaratkan skor IELTS dengan batas tertentu, penting untuk tahu lebih dulu kira-kira bagaimana peluang si calon peserta dalam menjalani tesnya nanti.

Bagaimana mengukur peluang itu?

Ukuran terbaik tentu saja tes IELTS itu sendiri karena dengan demikian Anda tahu persis jika nilai sudah/belum memadai. Juga bila ada nilai yang masih perlu perbaikan, maka si calon peserta dapat memusatkan fokus pada penguatan di bidang yang belum memuaskan hasilnya apakah untuk listening, reading, speaking maupun writing.

Kalau tesnya dianggap terlalu mahal, bisa dipilih tes sejenis yang bukan resmi (semacam assessment test) yang ditawarkan beberapa lembaga pengajaran bahasa Inggris dan Fakultas Sastra Inggris di sejumlah universitas. Tujuannya benar-benar sekadar untuk mendapat skor perkiraan awal tentang kemampuan peserta tes dalam menghadapi ujian IELTS.

Akan tetapi dengan tarif tes IELTS yang memang demikian mahal (termasuk sekadar assessment-nya sekalipun) opsi untuk tes sekedar guna mengukur kemampuan awalnya kemungkinan besar tak dimiliki semua orang.

Yang paling masuk akal, setelah memperhitungkan biaya, kesempatan, jarak, waktu dan tenaga, adalah melakukan tes setelah yakin punya persiapan cukup sehingga dapat menghasilkan skor yang baik, sukur-sukur melebihi basic requirement dari Uni maupun lembaga pemberi beasiswa.

Pertanyaannya: seperti apa persiapan cukup ini dan bagaimana yakin diri kita sudah punya persiapan cukup?

Ada dua cara mengukur persiapan ini – dengan persiapan mandiri (belajar sendiri, berlatih sendiri, mencatat kemajuan sendiri) atau dengan belajar lewat kursus atau les yang menyediakan kelas khusus persiapan tes IELTS.

Sistem mandiri lebih enak karena irit biaya, juga waktu dan tenaga. Sementara sistem kursus lebih efisien karena terukur, terstruktur dan jelas capaiannya.

Untuk Anda yang punya bujet untuk les, saya akan menyarankan agar memakai cara ini. Membayar mahal pada lembaga yang sudah teruji kualitasnya (sangat disarankan yang sekaligus juga menjadi penyelenggara tes IELTS teregistrasi) akan memacu untuk memperoleh hasil terbaik, sungguh-sungguh bekerja keras dan mendapatkan lingkungan yang mendukung.

Tanpa perlu susah-payah mencari mentor, pengajar di tempat kursus akan memberi masukan, memberi nilai, menguji dengan pertanyaan, memberi tips dan lain-lain yang Anda perlu dari sistem belajar di kelas supaya pas dengan kebutuhan tes IELTS. Pengajar di tempat kursus biasa, kemungkinan besar tak bisa menawarkan kelebihan ini.

Keunggulan lain ikut les IELTS adalah keberadaan teman-teman seperjuangan di kelas yang ideal untuk sparring partner terutama dalam praktik speaking.

Anda yang tak punya dana atau waktu atau berada di daerah yang tak menyediakan fasilitas kursus serupa, bisa belajar sendiri dengan beberapa tips:

  • cari referensi soal sebanyak-banyaknya yang kira-kira sesuai dengan tes IELTS seungguhnya. Buku latihan, soal-soal di internet, cara mengerjakan di Youtube, juga tips dari berbagai blog bisa sangat membantu upaya ini. Sekali Googling Anda dapat menemukan ratusan entri tentang tips belajar IELTS secara mandiri. Blog ini bisa jadi contoh, website ini menawarkan kursus online gratis, video-video di sini bisa sangat membantu bahkan seperti diajar guru. Kemungkinan untuk mendapatkan contoh soal, kunci jawaban, teknik menghapalkan jenis soal dan lain-lain nyaris tidak terbatas. Juga buku-buku yang bahkan bisa diunduh dengan gratis versi PDF-nya.
  • cari partner untuk belajar atau buat grup. Beberapa grup di Line, WhatsApp, maupun mailing list menyediakan teman yang bersedia diajak bermitra dalam belajar bahasa Inggris. Hanya saja, mencari pasangan yang cocok (dalam level speaking atau writing misalnya) mungkin tidak mudah, antisipasi kemungkinan ini dengan banyak mencoba bercakap sendiri, berlatih membaca artikel atau tulisan dalam Bahasa Inggris dengan suara keras agar terasa pelafalan yang benar/salah
  • tentukan jam belajar dan disiplinlah dengan jadwal itu. Ini KUNCI sesungguhnya dari kesuksesan belajar IELTS mandiri (atau subyek apapun). Buat target yang keras tetapi masuk akal – misalnya sehari akan latihan lima jam. Buat mekanisme sanksi kalau lalai memenuhi jam belajar yang sudah ditentukan dan bila perlu mekanisme reward kalau sukses memenuhi target
  • biasakan Bahasa Inggris sebagai ‘makanan sehari-hari’. Selain jam belajar yang ketat, perbanyak asupan Bahasa Inggris lewat bahan bacaan, tontonan dan hiburan. Berbagai seri siaran BBC yang bisa diunduh di internet bisa sangat membantu membangun kemampuan listening. Tentu juga nonton siaran CNN seperti juga menikmati film Hollywood dapat turut membantu proses penyerapan kosa kata dan menyerap ungkapan dalam Bahasa Inggris. Kalau punya kebiasaan membaca berita setiap hari, ganti sumber berita dari media lokal ke media asing, kemungkinannya bisa tak terbatas.
  • khusus untuk writing, Anda perlu mentor yang bisa memberi masukan dan kritik. Temukan mentor ini dan pastikan yang bersangkutan tak keberatan membantu Anda. Kalau tak bias mendapat mentor, jangan putus asa. Ada banyak petunjuk tersedia di internet tentang teknik mendapat skor tinggi dalam writing. Misalnya sini, Simon menjelaskan berbagai langkah menuju nilai tinggi dalam writing, Anda cukup perlu latihan rutin. Makin sering latihan makin baik.
  • selalu cek kemajuan Anda setelah belajar. Tes mandiri bisa dilakukan tiap hari/minggu/bulan – tergantung keinginan. Untuk mengukur akurasi waktu, selalu gunakan simulasi tes sungguhan (dengan jumlah soal, waktu pengerjaan, dan halaman isian tes yang sama persis dengan tes IELTS seungguhnya). Ini penting untuk memantau sejauh mana perkembangan Anda dengan program belajar mandiri. Sekaligus mengenali di mana titik kuat dan lemah sehingga lebih mudah diperbaiki.
  • Beri waktu yang cukup untuk persiapan yang memadai sebelum jadwal tes. Misalnya kalau mengikuti jadwal belajar dengan bimbingan kursus profesional, Anda bisa menentukan target tes setelah 3-6 bulan atau bahkan setahun. Anda yang sudah punya bekal cukup, tentu bisa ikut tes lebih cepat. Yang jelas, preparation is a MUST. Jangan merasa sudah jago Bahasa Inggris sehingga bisa untung-untungan langsung ikut tes – bisa sih, tapi tidak disarankan karena skor yang tak sesuai target akan membuat Anda rugi waktu, tenaga dan uang.

Satu hal yang patut diingat: tempat tes IELTS/TOEFL teregistrasi di Jakarta maupun kota besar lain di Indonesia sangat terbatas. Pada periode puncak (Agustus sd Desember) sering kali jumlah peminat lebih besar dari kapasitas kursi tes. Karena itu perhitungkan tanggal-tanggal penting (deadline aplikasi beasiswa/universitas) sebelum menetapkan target melakukan tes.

Kalau setelah persiapan begitu rumit dan matang nilai tes masih tak memenuhi juga? Tidak ada jalan lain sih, tes lagi dengan target hasil harus lebih baik.

Yuk ah, semangat!

Penulis adalah Dewi Safitri, penerima beasiswa Chevening 2014-2015. Dapat dikontak melalui Twitter di @pendekarsilat11

0 Comments

Leave a Reply