Extra Academics

Homesickness akut dan cara jitu mengatasinya

Banyak yang mendengar kata homesick (kangen rumah parah) dan menganggap remeh, termasuk, awalnya, saya. Homesickness dibahas pada pembekalan sebelum keberangkatan yang diadakan Sekretariat Chevening, namun hal itu dikalahkan kegembiraan akan memulai studi di Inggris dalam waktu dekat.

Ketika kita melihat kehidupan pelajar yang studi di luar negeri, termasuk dengan skema beasiswa, hanya foto-foto indah yang ditunjukkan di media sosial. Foto-foto mereka semuanya menunjukkan hal-hal yang menyenangkan: perjalanan mengunjungi tempat-tempat terkenal atau bersejarah, teman-teman dari berbagai negara, serta cara berpakaian yang menyesuaikan dengan beragam musim. Tidak ada foto yang menunjukkan kesedihan, kesusahan atau bahkan stres yang dialami selama studi atau hidup di luar negeri, yang kebanyakan dijalani sendirian.

Hal ini yang menyebabkan saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan tantangan yang cukup berat di awal hidup dan menjalani studi di Inggris. Ketika saya rindu rumah cukup parah, hal ini juga yang membuat saya merasa itu tidak wajar dan merupakan tanda kelemahan.

Apa itu homesick?

Dijkstra and Hendrix (1983) mendefinisikan homesickness sebagai “keadaan normal manusia, yang dicirikan dengan emosi tertekan, keluhan fisik dan pemikiran mendalam soal lingkungan yang familier dan/atau orang-orang terdekat.”[1] Ciri psikologi yang utama adalah sering memikirkan rumah, keinginan untuk pulang ke rumah, perasaan bersedih jauh dari rumah (orang, tempat dan benda-benda) yang dibarengi dengan perasaan tidak bahagia, penyakit dan disorientasi di tempat baru yang mencolok, yang bukan rumah.

Definisi rumah mencakup orang-orang dan benda-benda, dan spesifik mengenai lingkungan yang akrab, aman dan dapat diprediksi. Hal tersebut mewakili, dalam bentuk yang paling ringan, kerinduan untuk kembali ke rumah, dan dalam bentuk paling parah, obsesi.[2]

Fisher (1989) membuat pembedaan antara empat manifestasi berbeda dari homesickness:[3]

  1. Keluhan fisik, yang seringkali mewujud sebagai masalah perut dan penceraan, sakit kepala, kehilangan selera makan, kesulitan tidur dan sensasi aneh di kaki.
  2. Manifestasi kognitif, seperti merindukan rumah secara obsesif, ketidakmampuan berkonsentrasi pada kegiatan sehari-hari, dan evaluasi negatif lingkungan saat ini.
  3. Di tingkat tingkah laku, orang yang homesick seringkali apatis, kurangnya ketertarikan pada lingkungan baru, biasanya hanya melakukan inisiatif kecil dan cenderung menarik diri secara sosial.
  4. Manifestasi emosional dari homesickness yang seringkali dikarakterisasi dengan perasaan depresi dan kelelahan dan bahkan pemikiran untuk bunuh diri.

Saya merasakan berbagai gejala ini tidak lama setelah tiba di Colchester, UK, kota dimana University of Essex berada. Kerinduan akan rumah juga menyebabkan hilangnya konsentrasi dan semangat, dan berlangsung lebih dari 3 bulan. Saya merasa terus menerus khawatir akan kondisi rumah, takut kehilangan momen-momen penting dengan orang-orang terdekat di Indonesia.

Efek dari homesick dan perasaan itu sendiri akan bervariasi bagi setiap orang. Sementara selain persoalan kangen rumah level tinggi, beradaptasi dengan tempat dan lingkungan baru, atau merasakan tekanan belajar juga dapat menyebabkan perasaan sedih atau depresi. Apa yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengatasi hal itu sehingga proses studi yang hanya satu tahun dapat berlangsung sukses. Dari pengalaman, bagaimana kita menilai kondisi kita sendiri dan mencari pertolongan yang tepat di tempat yang tepat sangat lah penting.

Pertama, ketika merasa sedih, depresi atau merasa tidak dapat bertahan, jangan mengingkari atau menyalahkan diri sendiri. Merasakan homesick adalah normal dan sangat manusiawi. Demi kebaikan diri sendiri, acuhkan pendapat yang mengatakan lain. Akan mungkin ada orang yang mengatakan bahwa homesick adalah tanda kelemahan, bahwa dengan merasakan homesick sama dengan tidak mensyukuri keadaan. Orang-orang ini tidak mengerti, dan jangan membiarkan penilaian mereka menjadi penilaian atas diri sendiri. Hindari orang yang membuat Anda merasa negatif atas diri sendiri.

Di setiap kampus di Inggris, bahkan kemungkinan di setiap departemen, sudah ada sistem yang dibentuk untuk membantu mahasiswa dengan segala macam permasalahannya, dari psikologi, fisik dan keuangan. Organisasi luar kampus juga banyak yang menawarkan bantuan serupa. The British Council memiliki laman web yang dibuat mengenai homesick dengan semua informasi yang dibutuhkan.[4] The National Health Service (NHS) juga memiliki laman web yang berisi informasi untuk mengatasi depresi. Banyak ahli yang akan dengan senang hati mendengarkan permasalahan kita, membantu dan mengawal dalam mengatasi masalah. Silakan membaca semua pilihan yang tersedia dan pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan dan yang membuat Anda merasa paling nyaman.

Saya memilih Student Support di kampus saya, yang kemudian merujuk saya pada konselor dan menanggung semua biayanya. Kampus lain mungkin memiliki pendekatan dan prosedur lain dalam membantu mahasiswanya. Seperti yang dikatakan konselor saya, dia telah bekerja bertahun-tahun untuk membantu mahasiswa dengan berbagai masalah, termasuk masalah yang serupa dengan yang saya alami. Ini menunjukkan bahwa homesick sangat wajar dialami mahasiswa internasional. Jadi jangan ragu untuk menggunakan sistem bantuan yang ditawarkan pihak kampus, dan jangan menunda hingga semakin parah atau efeknya sudah mempengaruhi studi kita.

Dengan pertolongan profesional dari konselor, dukungan dari teman-teman, dan orang terkasih dan keluarga di rumah, juga dengan bantuan dari dosen, saya berhasil menyelesaikan studi master’s saya. Disertasi saya mendapat nilai distinction dan secara keseluruhan saya lulus dengan Merit. Saya bukan ingin memamerkan nilai, tetapi sekadar untuk menunjukkan bahwa walaupun mendapatkan tantangan dan mengalami kesulitan, dengan mendapat pertolongan yang tepat, kita bisa dan akan sukses dalam studi.

Ketika saya mengingat masa-masa studi saya di Inggris, faktor kunci yang membuat saya bertahan adalah tekad yang tertanam kuat bahwa saya mau dan harus berhasil dalam studi saya. Pemikiran inilah yang membuat saya bertahan dari keinginan kuat untuk pulang ke rumah, kembali ke zona nyaman. Tekad inilah yang juga membuat saya mencari segala pertolongan yang bisa didapatkan dan berjuang dari hari ke hari. Jika saya bisa, maka orang lain juga pasti bisa.

Jane adalah penerima beasiswa Chevening 2014-15. Surel bisa dialamatkan ke janeaileent@gmail.com

[1] Elisabeth H.M. Eurelings-Bontekoe, ‘Homesickness: Personality, Attachment and Emotional Correlates’ in Miranda van Tilburg and Ad Vingerhoets (eds), Psychological Aspects of Geographical Moves, Homesickness and Acculturation Stress (Amsterdam Academic Press 2005), 179.

[2] Ibid, 40.

[3] Ibid, 180.

[4] http://www.educationuk.org/global/articles/youngminds-advice-for-mental-health/

0 Comments

Leave a Reply