Scholarship in The UK Your Questions

Beasiswa: kenapa saya selalu gagal?

Saya lulus S1 dengan nilai lumayan. Dari PTN yang peringkatnya di dalam negeri cukup bagus. Bekerja beberapa tahun di perusahaan swasta yang cukup ternama. Bahasa Inggris saya tidak jelek – skor TOEFL terakhir hampir 600. Kemampuan bicara dan komunikasi saya menurut teman-teman juga bagus. Tapi kenapa saya selalu gagal lolos seleksi beasiswa?

Ehm. Pertama, selamat bergabung kak – kita senasib. Gagal seleksi beasiswa berkali-kali adalah kisah hidup saya juga. Dan ribuan (mungkin ratusan ribu) orang Indonesia lainnya.

Jadi kenapa gagal?

Gagal mencocokkan antara kriteria yang dicari dengan yang ditawarkan kandidat

Tiap kompetisi adalah unik. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku – sebagian dijelaskan melalui pengumuman resmi di website lembaga penyelenggara beasiswa, sebagian hanya dapat kita duga kecenderungannya.

Evaluasi awal ketika gagal lolos saringan beasiswa mesti lah dicocokkan dengan syarat ketentuan tadi. Misalnya beasiswa X menargetkan “beasiswa dari organisasi ini ditujukan pada pembentukan future leader yang mampu memberi dampak besar pada perubahan komunitasnya”. Kemudian ada bidang-bidang yang disediakan pemberi beasiswa untuk dipilih – pelamar diminta menulis apa yang ditujunya dalam 10 tahun dengan studi itu.

Kalau ada dua kandidat yang sama-sama ingin studi komunikasi massa dengan beasiswa – yang satu menuliskan proyeksi “menjadi penulis”, yang satu lagi proyeksinya jadi “dosen, pengelola website komunikasi dan penyelenggara pelatihan komunikasi untuk pejabat daerah tingkat kecamatan”, maka saya menduga panitia akan memilih calon kedua.

Karena kaitan antara “future leader yang mampu memberi dampak besar pada perubahan komunitasnya” dengan “dosen, pengelola website komunikasi dan penyelenggara pelatihan komunikasi untuk pejabat daerah tingkat kecamatan” nampak lebih jelas dan riil, ketimbang dengan penulis yang belum tahu kapan menerbitkan buku/artikel dan berapa banyak.

 

Tidak tampil meyakinkan – dalam berkas aplikasi maupun wawancara

Kalau studi yang Anda incar adalah international finance, seyogyanya Anda fasih dalam menjelaskan konteks antara situasi finansial dunia terkini, kaitannya dengan ekonomi global dan implikasinya pada Indonesia. Saat menulis esai kutip angka, statistik atau teori yang menyokong argumen bahwa tanpa memberi Anda beasiswa untuk studi ini, Indonesia akan kehilangan peluang memiliki figur financier mumpuni di masa depan.

Anda barangkali sering mendengar ada saja jenis orang-orang seperti ini yang bisa tampil meyakinkan tanpa perlu repot bikin persiapan. Tapi percaya lah, jenis yang begini tidak banyak. Sebagian besar dari kita perlu banyak latihan untuk mencapai titik convincing itu, baik dalam bentuk esai maupun saat menjelaskan secara verbal.

Dan karena yang bisa menilai kita adalah orang lain, upaya berlatih untuk tampil meyakinkan perlu melibatkan orang lain juga. Sebut dia mentor, konsultan, atau apa saja – intinya teman yang bersedia bantu beri komentar terkait performa Anda menyampaikan pendapat. Sebelum berkas aplikasi dikirim, minta dia baca dan beri pendapat tulisan Anda. Sebelum tanggal wawancara, minta dia tes Anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang kira-kira bakal ditanya interviewer. Lakukan terus proses ini sampai Anda merasa siap tampil.

 

Kurang jeli cari alternatif

Ini trik lama pencari beasiswa kawakan (baca: yang sudah sering gagal). Sebut tiga jenis beasiswa yang sudah pernah Anda coba lamar dan gagal – Chevening, LPDP, dan AUSAid? Atau STUNED, Ford dan Erasmus Mundus? Jenis-jenis beasiswa ini biasanya level kompetisinya antara 1 : ratusan sampai paling minim 1 : puluhan aplikan. Dengan kata lain, ketat.

Sudah pernah dengar beasiswa Joint Japan/World Bank? Atau Australia Awards? Gates Foundation? Beasiswa Departemen Agama? Beasiswa LPDP seri Presidential Scholarship? Beasiswa Kemendikbud untuk Publik? Sudah pernah coba?

Intinya jangan terpaku pada beberapa nama generik beasiswa yang sudah sangat populer – kompetisinya biasanya sangat ketat. Coba berbagai jenis beasiswa lain yang meski nampak ‘kurang populer’ di Indonesia, servisnya sama saja yakni mengirim Anda studi tanpa bayar. Beberapa jenis beasiswa bahkan menjanjikan jumlah uang dan tunjangan lebih dari beberapa beasiswa ternama.

 

Proses ‘belajar’ kurang

Gagal adalah kesempatan untuk belajar. Klise, tapi 100% betul. Tiap kali tak lolos seleksi beasiswa sediakan waktu untuk melihat kembali performa Anda, identifikasi di mana kira-kira kekurangannya. Kerja keras untuk perbaiki kekurangan itu sebelum mengirim aplikasi berikutnya. Mereka yang terus-menerus gagal adalah mereka yang tak kunjung belajar dari pengalaman sebelumnya. Kalau sudah belajar masih gagal juga? Ya pelajari lagi, terus sampai sukses!

 

Tidak persisten

Ini kegagalan paling tragis karena menutup jalan Anda untuk sukses meraih beasiswa betulan. Prinsip persistensi paling mudah adalah coba lamar beasiswa xkali – dimana x adalah jumlah kegagalan +1. Intinya gagal sekali, lamar dua kali, gagal dua kali lamar tiga kali, gagal 34 kali, lamar 35 kali!

Dewi Safitri adalah penerima beasiswa Chevening 2014-2015. Dapat dikontak melalui Twitter di @pendekarsilat11