Chevening Scholarship in The UK

Beasiswa Chevening – Sebuah Pengalaman

 

Sejak kuliah dulu, saya dan teman-teman saya selalu memproyeksikan diri untuk mengambil gelar master’s (S2) di luar negeri. Kami menimbang-nimbang jurusan dan universitas. Mulai dari Belanda, Spanyol, dan juga Inggris. Saya termasuk yang terpikat dengan kuliah di Inggris, yang juga jadi alasan kenapa setelah lulus dan sempat bekerja di tahun 2010 saya memutuskan mencoba apply Chevening, dan gagal.

Harus diakui saya tidak punya dasar dan modal yang kuat kenapa harus ke Inggris dan kenapa Chevening. Wajar kalau ternyata gagal. Takdir menunjukkan saya untuk berkuliah di Universitas Pertahanan dengan jurusan Manajemen Pertahanan, yang uniknya saat itu diajar oleh dosen-dosen dari Inggris. Di modul pertama saya sudah berkata ke dosen saya, mendiang Pak Tom Maley, bahwa saya akan melanjutkan kuliah lagi di negerinya dan menjadi pakar.

Salah satu alasan saya memutuskan untuk kuliah lagi adalah dorongan dosen saya, Bang Anton. Ia pernah menyampaikan bahwa sedikit sekali seorang sarjana hukum yang punya concern besar di bidang pertahanan keamanan. Contoh sarjana hukum ternama yang membahas soal hankam sayangnya sudah mendahului kami yaitu mendiang Munir dan Pak Fajrul Falaakh. Menyadari bahwa Indonesia membutuhkan orang sekaliber mereka, saya memutuskan untuk mendalami ilmu ini dan berusaha menapaki jejak mereka.

Disaat yang sama saya juga menyadari, menapaki jejak mereka melalui pendidikan di Indonesia tidaklah cukup. Saya membutuhkan mentor, sumber, dan lingkungan yang memadai. Pada titik inilah pijakan saya tercipta, ke UK, cari kampus terbaik, belajar sebanyak-banyaknya, dan berikan yang bisa diberikan untuk Indonesia.

Kenapa Inggris

Saya memilih Inggris karena pendekatannya saya rasa lebih nyaman. Saya pernah mendapatkan pendidikan walau sebentar di Amerika Serikat, dan merasakan bahwa pendekatan mereka mungkin terlalu kaku dan teknis. Itu kenapa kemudian saya tidak memilih AS sebagai target pendidikan saya. Tidak pula ke Belanda saat itu (ada pilihan sekolah ke Vrije Universiteit) selain karena kenadala Bahasa, juga faktor kesulitan saya dalam memahami proses pendaftaran universitas disana. Di UK proses aplikasi sangat straight forward (kirim email, dapet berkas, kirim balik atau isi online) dan tidak melibatkan biaya. Selain itu, faktor bahwa saya sudah mengenal dosen di Cranfield, kampus tujuan saya, juga cukup membantu.

Beasiswa Chevening secara alamiah ada pikiran saya. Sudah dua kali gagal dan kemudian berhasil di percobaan ketiga. Chevening bukan hanya perkara nama besarnya, akan tetapi perkara impian dan cita-cita. Melihat orang-orang hebat yang memberikan baktinya untuk negeri lahir melalui beasiswa ini turut menjadi dorongan saya memilih beasiswa Chevening. Mimpi memang untuk dikejar, dan mimpi yang satu ini saya kejar tiga kali sampai berhasil.

Satu hal tentang kuliah, saya punya resep penyemangat yang barangkali tak lazim: sebuah lagu. Judulnya ‘Cahaya’ dibawakan oleh Asfinawati masuk dalam kumpulan lagu Album Untuk Munir.

…dalam langkahku, kau datang lagi

Tak terlihat hanya terasa di hati

Kali ini ku mengerti, maaf bukan berhenti

Damai tak berarti tanpa keadilan.’

Semoga sukses teman-teman!


Sulaiman Sujono adalah penerima beasiswa Chevening 2014-15. Kontaknya melalui surel adalah sulaiman.sujono@gmail.com dan namanya sendiri untuk laman di Facebook

0 Comments

Leave a Reply