Extra Academics

Telah hilang: motivasi belajar

I feel like it’s the end of my academic enthusiasm. I was so excited to start it and I did try my best to keep up with the challenges. But now it seems to be worthless – I will never be up to the golden standard. Why even bother?

Kehilangan motivasi belajar adalah salah satu penyakit yang umum diderita mahasiswa internasional (saya yakin juga lokal) untuk level master’s di UK.

Pada tahap awal – sebelum berangkat, setelah sampai dan masa penyesuaian – situasi tempat belajar yang baru di Inggris yang sangat berbeda dengan Indonesia mungkin menyenangkan sebagai sebuah pengalaman.

Membiasakan diri pada hal-hal yang sebelumnya tak pernah kita hadapi (cowok sekelas ganteng semua) atau tantangan baru yang menarik (bagaimana masak ayam tumis kecap hanya dengan microwave?) pada awalnya mungkin membuat adrenalin terasa terus mengalir dan kita terpacu untuk menaklukkan masalah satu demi satu. Sampai akhirnya hidup mulai terasa rutin kembali dan proses studi menuntut perhatian dan usaha lebih: tugas menumpuk, ujian, presentasi, dan seterusnya.

Ibaratnya bulan puasa, seringkali pekan pertama tanpa terasa terlewati dengan ringan karena semangat meluap. Berikutnya ketika level antusiasme mengendur, keinginan untuk menjawab tantangan ikut memudar. Padahal esai dan ujian di depan mata.

Kalau ini terjadi maka, pertama, don’t panic. NO, this is not about you. Hampir semua mahasiswa pernah mengalaminya sehingga boleh dikata ini proses yang wajar belaka.

Sebagian besar orang bila ditanya saran terkait usaha mengambalikan motivasi akan menyarankan kombinasi dari beberapa hal dibawah ini:

1/ Jangan terlalu tegang – woles saja. Pergi keluar, jalan-jalan, hirup udara segar dan nikmati suasana Inggris. Kunjungi teman di kota lain dan habiskan waktu untuk sejenak melupakan diri dari tuntutan tugas dan tantangan akademik

2/ Jangan tunggu sampai nyaris deadline baru kerjakan tugas, waktu singkat bukan sekutu terbaik kita untuk menulis esai. Baiknya cicil tugas dengan memikirkan tema, menyusun proposal/draft esai jauh-jauh hari

3/ Biasakan diri dengan jam belajar sebagai rutinitas wajib. Misal jam sekian sd sekian duduk di perpus dan browsing bahan bacaan, jam sekian istirahat, jam sekian belajar di rumah dst. Buatlah belajar sebagai agenda tetap, sehingga mau tak mau Anda menghabiskan banyak waktu untuk berkutat dengan urusan studi

Poin-poin diatas layak dicoba. Saya tahu beberapa teman sangat diaiplin dan serius dengan model pembagian waktunya sehingga saat musim tugas tiba, mereka tidak terlampau kelihatan stres dan kehilangan motivasi belajar.

Saya tidak terlalu yakin apakah hasil kedisiplinan itu sepadan – misalnya dengan meraih nilai distinction – tetapi langkah-langkah diatas jelas menunjukkan sikap mahasiswa yang terukur dan terencana. Sikap ini adalah bagian paling penting dari upaya mempertahankan motivasi.

Praktiknya begini. Jika sejak awal Anda sudah menyusun target yang ingin diraih – nilai tinggi atau sekadar merit bahkan pass sudah cukup – maka lebih mudah mengendalikan fokus dan menyusun rencana. Dengan ukuran sederhana ini, sesuaikan kemampuan dengan kemauan Anda dan aplikasikan dalam skedul sehari-hari.

Kalau tujuan belajar memang ingin santai dan lolos mata kuliah dengan nilai 60, maka bolehlah jam belajar lebih longgar sementara jam main (atau kerja atau volunteer, apa saja diluar urusan studi) lebih sering. Tidak berarti menyepelekan studi, tetapi mencoba mengatur waktu efisien sesuai dengan target dan tak membebani diri sendiri dengan tanggungan belajar berlebihan.

Sebaliknya, kalau sasaran adalah distinction maka sesuaikan pola belajar sehingga Anda merasa punya cukup militansi untuk mencapai target itu. Dengan harapan capaian tinggi, atur motivasi sehingga bisa dipertahankan selama mungkin demi mencapai target. Misalnya kalau memang target tinggi ya jangan hiraukan saat teman bersenang-senang, mereka mungkin punya sasaran pencapaian berbeda dari Anda. Bukan berarti Anda tak bisa turut berhura-hura, tapi mengingatkan bahwa rata-rata dari kita adalah mahasiswa biasa (bukan jenius) sehingga target tinggi layak dicapai dengan pengorbanan luar biasa.

Dengan menyetel target akhir, Anda kemungkinan bisa bertahan lebih lama. Ibaratnya maraton, target yang sudah dipikirkan matang dan dibuat nyata secara visual dalam otak akan membantu Anda memacu kecepatan meski sudah lewat dua pertiga lintasan.

Set this target and visualize it.

Berikutnya untuk menjaga semangat studi tetap hidup adalah menjadi murah hati untuk diri Anda sendiri. Beri janji pada diri sendiri: kalau target tercapai maka aku akan kasih hadiah pada diriku sendiri dengan ….(misalnya) jalan-jalan ke pantai atau ke Eropa. Prinsip self-reward sederhana ini cukup penting karena yang terjadi selama masa studi yang hanya setahun, biasanya diwarnai dengan banyak godaan. Si X sudah keliling Spanyol dan Prancis, si Y sudah sampai Wales, Skotland dan Irlandia, sementara si Z sudah nonton 20 musikal dan 10 drama (I’m being liberal here – this Z must be loaded). Giliran kita kapan dong?

Gunakan godaan seperti ini sebagai motivasi: kalau esai selesai maka saya akan pergi ke kota A atau nonton teater dengan lakon B yang sangat terkenal. Tepati janji itu dengan konsisten, jangan nonton sebelum esai selesai atau membatalkan niat padahal esai sudah tuntas.

Hal ketiga: biasakan untuk bangga pada pencapaian Anda.

Inggris punya tradisi nilai akademik yg ketat – setidaknya jika dibandingkan dengan di Indonesia, itu pandangan umum banyak orang. Karena itu untuk mencapai standar kelulusan (pass = nilai >50) sekali pun, dibutuhkan usaha keras. Tentu saja beda mahasiswa akan membawa konsekuensi beda kemampuan dan standar pass mungkin bagi sebagian mahasiswa seperti sekadar main-main saja – piece of a cake!

Apa pun hasil akhirnya, terima dengan lapang dada dan gembira. Anda sudah menghadapi setumpuk esai ribuan kata dengan mental pejuang, jadi berbanggalah. Kebanggaan dan rasa syukur itu akan membuat kita lebih tahan goncangan (resilient) terhadap tekanan psikologis dan potensi kehilangan motivasi belajar. Kalau ada teman yang nilainya jauh lebih bagus, ikutlah berbahagia untuknya. Pakai rasa iri untuk suntikan tambahan semangat pada tugas berikutnya, jangan pakai rasa iri untuk menyalahkan atau mengutuk diri sendiri.

Dan keempat, omong-omong soal teman, ada baiknya menjaga agar pergaulan Anda seimbang: pilih teman baik yang gemar belajar lebih banyak dari teman yang doyan main. Biarkan Anda ‘terintimidasi’ oleh jenis kawan-kawan yang rajin ini dengan harapan Anda ketularan rajin juga. Setidaknya melihat mereka menghabiskan waktu seharian di perpus akan memotivasi Anda untuk berpikir apakah Anda juga sebaiknya melakukan hal yang sama.

Ingat pepatah kuno: dekat minyak wangi, harum, dekat ikan asin, bau.

Dekat dengan teman-teman yang rajin ini akan memberi Anda dukungan moral bila diperlukan. Anda dapat saling membagi keluh-kesah dan saling bantu kalau dibutuhkan.

Last but not least, kehilangan motivasi bila tak kunjung mereda dan bahkan makin akut, bisa jadi problem serius. Bisa-bisa Anda depresi. Atau stres yang harus diredakan dengan konsultasi psikiatrik. Kenali tanda-tandanya dengan banyak komunikasi dengan dosen pembimbing (academic tutor). Kalau ada orang paling penting dalam studi Anda di level master’s, pembimbing akademik lah orangnya. Jangan tunggu masalah memburuk, sering lah berkomunikasi. Tanyakan, minta petunjuk atau bicarakan apa saja (sepanjang Anda nyaman), dalam rangka menjalin komunikasi.

Hubungan yang baik dengan tutor akademik ini kemungkinan besar akan menghindarkan Anda dari level kehilangan motivasi belajar akut tapi kalau masih merasa down setelah semua cara dicoba, saatnya konsultasi ke ahlinya di Student Center. Ada layanan konsultasi psikologi/psikiatri yang disediakan khusus untuk mahasiswa di situ. Tidak perlu segan, ribuan orang sebelum Anda sudah memakai layanan ini lebih dulu.

Bila perlu datang beberapa kali, konsultasi baik pada pembimbing akademik maupun psikolog yang tersedia. Ingat: don’t suffer in silence!

Dewi Safitri adalah penerima beasiswa Chevening 2014-15. Bisa dikontak melalui Twitter di @pendekarsilat11

0 Comments

Leave a Reply